Showing posts with label 2014. Show all posts
Showing posts with label 2014. Show all posts

Wednesday, September 14, 2016

About a Film: Lemon Tree Passage (2014)

You can see it
(Maya)


Director: David Campbell
Screenwriter: Erica Brien, David Campbell
Casts: Jessica Tovey, Nicholas Gunn, Pippa Black
Origin: Australia
Running time: 84 minutes
Synopsis: An urban legend led some teenagers to another hidden secret

the intro of the movie which I don't understand why it happened
Dengan segala ketumbenan, aku memutuskan untuk menonton film yang satu ini. Film ini merupakan salah satu film horor yang berasal dari benua tetangga, Australia. Well, aku tidak terlalu familiar dengan film produksi dari Australia and I give this movie a chance karena film Australia yang beberapa saat yang lalu kutonton, Lake Mungo, surpasses my expectation. Another chance for another movie won’t hurt, then. Mungkin saja film ini akan membuka ketertarikan dariku untuk ‘memburu’ film-film produksi Australia lainnya.

And this is the group that will need survive throughout the movie
Film ini dibuka dengan sebuah urban legend di Australia yang nantinya akan kita ketahui dikenal dengan nama Lemon Tree Passage, sesuai dengan film ini. Film ini bahkan menunjukkan salah satu penampakan di Lemon Tree Passage yang direkam dalam bentuk sebuah video yang diklaim sebagai salah satu video yang terdapat di YouTube.  Setelahnya, film ini dibuka dengan sebuah scene dimana ada seorang laki-laki yang sepertinya dikejar-kejar oleh ‘sesuatu’ dan di tengah-tengah ketakutannya, dia hampir saja membunuh dirinya sendiri. Namun, hal ini tidak jadi terwujud ketika dia menyadari ‘sesuatu’ yang mengejarnya telah menghilang. Kemudian, cerita berubah haluan dengan menceritakan beberapa remaja Amerika yang sedang backpacker ke Australia dan mereka bertemu dengan 2 remaja lokal yang nantinya akan mengajak mereka untuk dengan urban legend lokal, this very infamous Lemon Tree Passage, dan mereka pun bertemu dengan urban legend yang dimaksud. Tapi, anehnya salah satu dari remaja Amerika tersebut, Maya, menunjukkan reaksi yang aneh ketika dia melihat urban legend tersebut. Setelahnya, keanehan sedikit demi sedikit mulai terlihat dan hal-hal tersebut terkait dengan Maya. Jadi, siapakah si Maya ini sebenarnya? Benarkah dia memang seorang turis dari Amerika yang datang ke Australia untuk berlibur ataukah dia sebenarnya terhubung dengan urban legend tersebut?
and this is....no, I won't spill the bean
So, these are some comments from me, frankly I’ll say kalau ide dari film ini bisa dibilang tidak terlalu original. Well, I’m sure there were several movies that talked about how urban legend terrorizes teenagers’ lives. Tapi, sedikit twist di film ini membuat film ini sedikit berbeda. Well, aku bilang sedikit karena personally, film ini kurang bisa menghidupkan potensi twist yang dimiliki film ini. Karena itu, aku malahan kurang bisa menangkap storyline yang disuguhkan film ini. Ada beberapa plothole di film ini dan sayangnya, ada beberapa hal penting yang ditinggalkan tanpa ada penjelasan yang lengkap. Mungkin aku yang kurang bisa menangkap plot yang diinginkan film ini. Di awal film ini, aku masih bisa mengikuti alur tapi di tengah-tengah film ini, aku mulai bertanya-tanya sebenarnya apa inti dari hal yang meneror para remaja ini. Ide yang ditunjukkan dalam film ini terlalu bertumpuk dan aku merasa kalau film ini kurang terfokus. Twist dalam sebuah film memang bagus untuk ditunggu tapi, kalau hal itu membuat film menjadi kacau, hal tersebut tidak begitu berguna dan sangat disayangkan. Well, membuat film memang bukan hal yang mudah, apalagi membangun sebuah cerita yang nantinya diharapkan dapat membuat penonton terkejut, tapi aku berharap sedikitnya film ini dapat dimengerti dengan baik, jadi film ini tidak berakhir sebagai salah satu film yang membuat para penonton terbingung-bingung dan kecewa dengan apa yang telah mereka lihat. Not that I’m disappointed after watching it, I’m more confused about how the things worked in the movie. 

(at least, the trailer was bettwer)

Credits:
Movieclips trailer @ youtube

Monday, June 27, 2016

About a Film: PK (2014)

Which God should I believe?
(P.K.)


Director: Rajkumar Hirani
Screeenwriter: Rajkumar Hirani, Abhijat Joshi
Stars: Aamir Khan, Anushka Sharma, Saurabh Shukla, Sanjay Dutt
Origin: India
Running time: 153 minutes
Synopsis: A stranger from outer space came to earth to question about God

Bukan Penjahat Kelamin yak, film ini jauh dari itu. Peekay disini artinya mabuk. Film ini agaknya membuka jalan yang sudah diperlebar sebelumnya oleh Three Idiots. Dengan lagi-lagi menampilkan Aamir Khan sebagai pemeran utama dan aku pun sudah memperingatkan diriku sendiri kalau film ini pastinya akan jadi film yang menyedihkan.
Where is God?
Awal dari film ini dimulai dengan kedatangan P.K. yang diperankan oleh Aamir Khan dan he's completely naked in here, yah di beberapa adegan awal sih, haha. Film ini agak mengingatkanku dengan film Koi Mil Gaya yang punya ide cerita yang lumayan mirip. Makhluk extraterrestial yang datang ke bumi dan makhluk tersebut bertemu dengan manusia yang akhirnya membantunya tinggal di bumi. Tapi, film P.K. ini memberikan isu yang cukup berat karena film ini bukan sekedar film tentang boy meets girl. Ada problem yang lebih kuat daripada itu, yakni masalah hubungan India dan Pakistan yang di film ini digambarkan cukup renggang (idk for the real life) dan juga soal perbedaan agama. Isu ini nantinya yang akan dianulir oleh P.K. Kupikir film ini mau memberikan konsep kalo cinta itu universal, tidak mengenal perbedaan and whatsoever.
Love story is a must
Film ini punya unsur komedi, drama, sci-fi, satire, pokoknya campur-campur dah. Aku sih senang menonton film ini karena konflik yang ditunjukkan bagus dan cinematografi film ini bagus. Pertama kalinya aku melihat India di sisi lain di film ini karena film ini mau menampilkan ugly truth yang ada. Belum lagi, Aamir Khan ikut join di film ini dan aktingnya yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Innocently, dia memerankan P.K. yang mempertanyakan soal Tuhan. Film ini sebenarnya bukan film yang ringan, tapi sutradaranya dengan mudahnya membuat film ini seringan mungkin, tanpa membuatku pusing untuk memahami tentang film ini.
P.K versus Tapaswi
Anushka Sharma yang menjadi lawan mainnya Aamir Khan disini juga memberikan performa yang baik. Dan juga ada Sanjay Dutt disini dan untungnya disini, karakternya bearable. Rasanya seperti nonton Nicholas Cage di Face Off, jadi okelah. Aku seneng-seneng aja nontonnya. Lagu dan tarian masih jadi elemen terpenting dari film India, termasuk di film ini. Intinya sih, aku merekomendasikan untuk siapapun yang belum nonton film ini, buat nonton film ini. Plus point, ada Aamir Khan di film ini, haha. Aku bingung dah berapa umur Aamir Khan waktu main film ini karena dia masih terlihat muda. Sama seperti beberapa tahun lalu, ketika aku liat dia di Mann.

(enjoy the journey)

Credits:
Movieclips Film Festival and Indie Films @ youtube for the trailer

About a Film: The Guest (2014)

What the fuck
(Anna Peterson)


Director: Adam Wingard
Screenwriter: Simon Barrett
Stars: Dan Stevens, Maika Monroe, Brendan Mayer
Origin: USA
Running: 100 minutes
Synopsis: A soldier visited the family of his fellow

Meet me, the guest!
The Guest, seperti judulnya, film ini tentang seorang tamu yang bukan tamu biasa. Dari awalnya, film ini sudah menunjukkan kalau tamu sepertinya tidak sekedar datang untuk berkunjung, tapi film ini tidak serta merta memberikan identitas si tamu dan apa yang akan dilakukannya. Sedikit demi sedikit hint diberikan dan aku diajak untuk mengira-ngira apa yang akan dilakukan tamu ini. Well, di awalnya si tamu bernama David Collins yang diperankan oleh Dan Stevens ini datang mengunjungi keluarga Peterson yang ternyata adalah teman dari anak mereka, Caleb Peterson, yang sudah meninggal di kemiliteran. David pun jadi seperti pengganti anak mereka yang hilang dan kakak yang melindungi Luke, adik dari Caleb. Luke dan Caleb bisa dekat dengan mudahnya, tapi tidak dengan Anna yang merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak menyukai David.
Happy day with a new brother
Film besutan Adam Wingard ini punya cerita yang sedikit menggantung. Ada beberapa hal yang left unsaid mengenai David, tapi anehnya, semua itu ngga jadi masalah yang besar. Malahan, itu yang bikin karakter David semakin menarik buat diliat dan icon 'the guest' yang dijejalkan di judul film ini semakin pas menggambarkan film ini. The thing is film ini berhasil untuk menggambarkan karakter David yang terlihat misterius, menawan, dan inhumanely strong. David di The Guest ini sedikit mengingatkanku dengan The Terminator karena kadang dia terlihat emotionless in his own way.
Look at me, Anna
Karakter Anna di film ini juga menjadi penting karena dia digambarkan sebagai 'love interest' David. David keliatan banget sering memperhatikan Anna dan kadang memberikan affection sedikit kepada Anna, cuman ya apa benar kayak gitu? Apa bener aku bisa ngarepin kalau Wingard memang ada niatan bikin cerita romance diantara bumbu-bumbu thriller yang udah ditebar disana-sini?ngarep atau ngga, film ini sedikitnya bisa bikin aku kesengsem sama karakter David yang sepertinya perhatian dengan Anna. Oiya, belum lagi dengan Luke. Perlakuan David yang melindungi Luke dari anak-anak yang sudah mem'bully' Luke, membuat sosok David seperti kakak yang sempurna. Benar-benar pengganti Caleb yang sempurna. Tapi apa benar sesempurna itu? Ini film thriller, after all. Dan apparently, it's a good one. I have faith in Adam Wingard now. Last sentence, the soundtrack is awfully awesome, especially the 'Anthonio' one.

(peek-a-boo)

Credits:
Shauntmax.com for the film poster
Movieclips Trailer @ youtube for the trailer

About a Film: Big Match (2014)

Let's get this asshole
(Choi Ik-Ho)

Director: Ho Choi
Screenwriter: Roy Kim
Stars: Lee Jung Jae, Shin Ha-Kyun, BoA
Origin: Korea
Running time: 112 minutes
Synopsis: A fighter needed to play a match to rescue his brother

Pas banget, film ini mengangkat beladiri MMA (bener ngga nih?) yang lagi happening dimana-mana. Di Indonesia sendiri, ada channel swasta yang nanyain pertandingan beladiri ini juga dan kayaknya penonton lumayan banyak. Intinya, bisa dibilang film ini pas banget karena ngangkat beladiri yang lagi banyak-banyaknya digemari orang, di Indonesia sama di luar negeri.
Ace's madness in starting the game
Big Match adalah film aksi komedi yang disutradarai oleh Choi Ho dan aku sih jujur aja belum tau tentang track record sutradara yang satu ini dan Big Match ini jadi penentu apakah aku bakal bisa berharap dengan sutradara ini atau ngga. Untuk aktor dan aktris film ini, ada banyak nama besar yang menaungi film ini. Bayangin deh, ada Lee Jung Jae (Assasination, The Face Reader, Il Mare), Shin Ha-Kyun (No Mercy for the Rude, Welcome to Dongmakgol, Save the Green Planet), and BoA (ngga perlu dijelasin dia ini siapa). Untuk plot, cerita ini berkisah tentang seorang petarung bernama Choi Ik-Ho yang diancam oleh seseorang yang misterius bernama Ace untuk memainkan game yang sudah dia persiapkan. Kalau dia tidak mau bermain, maka saudara laki-lakinya telah diculik yang akan mendapatkan akibatnya.
Film ini penuh dengan aksi laga yang menampilkan betapa atletisnya Lee Jung Jae. Banyak adegan yang mengharuskan dia untuk beraksi selincah dan segesit mungkin. Ngga kebayang betapa lamanya persiapan dia untuk main film ini atau dia memang dari awalnya biasa berolahraga seperti itu. Film ini juga dipenuhi dengan berbagai scene yang komedi yang bikin aku ketawa. Karakter Choi Ik-Ho yang dia perankan adalah karakter yang bisa dibilang cukup polos dan awalnya dia tidak percaya kalau saudaranya benar-benar diculik. Namun, pada akhirnya, dia tahu kalau permainan yang sudah dipersiapkan oleh Ace bukanlah sebuah permainan biasa, nyawa saudara laki-lakinya benar-benar dipertaruhkan disini.
I believe I can fly
Selain Lee Jung Jae, kemunculan Shin Ha-Kyun sebagai Ace juga membuat film ini semakin menarik. Karakternya bisa dibilang lucu tapi di balik itu, dialah villain paling berbahaya yang sudah menimbulkan kekacauan di hidup Choi Ik-Ho. Belum lagi, adanya BoA di film ini membuat film ini semakin menarik. BoA bukan hanya sebagai pemanis di film ini, tapi dia turut menampilkan beberapa aksi laga disini.
Beware of BoA's punch
Hampir sesuai dengan judulnya, Big Match menampilkan 'pertandingan besar' dimana ladang permainan Choi Ik-Ho berpindah-pindah dan dia harus siap untuk beradaptasi dengan permainan yang sudah direncanakan oleh Ace. Kalau diliat-liat sih, film ini hampir mirip dengan film Arena yang dimainkan Samuel L. Jackson dan Kellan Lutz. Bedanya film ini bisa tampil dengan lebih lucu dan tidak se-gore dibandingkan film Arena. Buatku, Big Match benar-benar entertaining dan aku ngga bosen-bosennya nonton film ini.

(take a peek first)

Credits:
Asianwiki for film poster
FilmIsNow Movie Trailers International @ youtube for the trailer

Saturday, June 25, 2016

About a JDrama: Subete ga F Ni Naru/ The Perfect Insider (2014)

Only 7 is lonely out of all the numbers
(Magata Shiki)


Based on novel "Subete ga F Ni Naru" by Mori Hiroshi
Diector: Joho Hidenori, Ogura Hisao, Kobayashi Yoshinori
Screenwriter: Kuroiwa Tsutomu, Koyama Shota
Stars: Go Ayano, Takei Emi, Akari Hayami
Episodes: 10
Broadcast network:Fuji TV
Synopsis: An university associate professor in architecture named Saikawa Kohei teamed up with his rich and smart female student, Nishinosono Moe to solve murder cases

Aku baru tahu kalau JDrama ini ternyata dari novel misteri yang berjudul sama di tahun 1996. Novelnya ditulis oleh Mori Hiroshi yang ternyata juga seorang engineer, ngga heran sih kalau ternyata ceritanya berbau-bau engineering stuff. Novel sih sudah diadaptasi ke anime, manga, visual novel, dan live-action drama. Nah, disini aku mau ngomongin soal live-action drama nya.
God, she looks so evil
Deretan pemainnya, menurutku, bener-bener promising. Gimana ngga? ada Go Ayano sama Takei Emi. Nambah ternyata Akari Hayami. Waduh, aku berharap gede dah sama live-actionnya. Belum lagi, temanya lumayan menarik dan termasuk thriller/ misteri drama gitu. Wah, sip banget dah! Aku nonton episode dengan penuh ekspetasi sampe kelupaan kalo jangan pernah berekspetasi berlebihan sama sesuatu kalo ngga mau kecewa banget and BAM! emang bener, aku kecewa banget sama ini live-action. I don't know what's wrong with the drama, but I keep wrinkling my forehead everytime I watch it. Sampe rasanya torturing banget tiap harus liat per episode demi namatin ini. Oiya, padahal penampakan Shirota Yu juga yang biasanya paling oke kalo maen di genre thriller, tapi tetep aja ngga mengobati rasa kecewa dengan betapa 'lame'nya live action ini.
No, this is not Insidious
I hate this scene
Why is this happening? Wrong director? Wrong casts? Wrong screenwriter? Aku juga ngga ngerti. Kalau untuk ide cerita, menurutku bagus sih, rada ngingetin sama Galileo, tapi ceritanya punya khas tersendiri. Saikawa Kohei dan Nishinosono Moe yang merupakan karakter utama di cerita ini, masing masing punya kelemahan tersendiri yang bikin mereka melengkapi satu sama lain. Terus dengan keberadaan Dr. Magata Shiki yang mengancam ketenangan hidup mereka bikin cerita nambah intriguing. Tapi, mungkin cara wrapping adegan-adegannya yang bikin geleng-geleng. Aku ingat ada satu scene yang bikin aku 'palmfaceveryhard' karena scene-nya sangat 'fake'. Yah, aku tau mungkin itu for the sake of dramatization but, hell no, it won't work that way. Mungkin pengennnya dimirip-miripin sama adegan yang ada di novelnya tapi.....eeerr....no-no. Dan satu lagi sih, aku ngga ngerasain ada chemistry antara Go Ayano dan Takei Emi di film ini. Apa ya? Biasa -biasa aja gitu, ngga ada greget. Aku malah ngerasa Go Ayano sama Akari Hayami yang malah bisa ngebangun chemistry yang baik (lol). Dan untungnya, keberadaaan Shirota Yu masih dikit menghibur lah. Sepertinya biasa, dia bisa memerankan orang jahat dengan bagus (lol lagi).
No, Can't feel it. Gimme more emotion
Cuman ya balik lagi dah, preference orang beda-beda. Mungkin aja ada yang demen banget sama live-action ini. Atau punya pendapat yang samaan sama aku. Tapi, aku bisa belajar sesuatu dari drama ini, yaitu jangan pernah punya ekspetasi segede bagong walopun aktor sama aktrisnya favorit ane. Daripada ntar malah merasa tersiksa sendiri. Ngarepin kalo dramanya bakal bagus di tengah-tengah episode, eh taunya masih aja berasa flat. Okelah, sekian reviewku tentang live action ini. Ini lagi tumbenan pake bahasa Indonesia soalnya lagi malas ngetik bahasa Inggris. Lagian ini post juga banyak unek-unek juga, lol. Sebenarnya sih ngga jelek-jelek amat lah ni live-action, ada Akari Hayami yang keliatan superb jahat disini and I'm waiting for her another evil character because of this live action, ada Shirota Yu juga yang cuman nampang sebentar, ada Yoshida Kotaro juga yang sebenarnya cocok buat meranin karakter jahat tapi jadi baik disini. Aku sih liatnya live action ini malah isinya banyak pemeran-pemeran yang cocoknya jadi orang jahat, kecuali Takei Emi. Aku belum pernah liat dia main jadi jahat soalnya. Ya, mungkin karena itu juga sih. Tapi Go Ayano pernah di Soratobu Kouhoushitsu sama Aragaki Yui dan hasilnya bagus kok. Mungkin ya, karena kurang chemistry aja kali yak. Sayang banget sih tapinya, the drama has a lot of potential things tapi eksekusinya kurang baek.

Credits:
Bagikuy @ image


About a Film: Wild Tales/ Relatos Salvajes (2014)

Shoot this, Nestor!
(Romina)


Director: Damian Szifron
Screenwriter: Damian Szifron
Stars: Dario Grandinetti, Maria Marull, Monica Villa
Origin: Argentina
Runtime: 122 minutes
Sinopsis: Six tales of the wildest revenge that you've ever imagined

Just you wait
Didn't expect anything when my friend told me to watch this film. Thought it would be a mere thriller movie since my friend had known that I favored thriller movies and she, sometimes, recommended some for me. The first tale is quite amazing, to be the beginning of the movie. It's impressive and I really didn't see it coming, that the first story would be happened in such way. The simple premise, which later, developed into amazing story. The first story initiated the other tales which also has great developing plot. The director, Damian Szifron, ensured the audience, from the very beginning, that this movie would blow your mind.
Such a happy couple, really?
Since the movie was kinda omnibus, you had several stories to favor. There were Pasternak, The Rats, Road to Hell, Bombita, The Deal, and Till Death Do Us Part). Personally, my favorite was Road to Hell because it was so ridiculous, too ridiculous I reckon. But, it's the wild tales, what could you expect? It's the wildest imagination of the director. Ah yes, the stories in the movie mirrored everyone's daily lives which made the movie was so natural, naturally strange, though. Because it didn't end up like your everyday lives. For me, it was worth watching because it was witty, funny, and surely different. Two thumbs up for the director for thinking these tales and successfully, projected those into a movie. No wonder Almodovar was the producer and it was the nominee for best foreign movies. Well done, Sir! Great actors and actresses, too!

(As usual)

Credits:
Sony Classics @ youtube for the trailer

Sunday, April 17, 2016

About a Film: As the Gods Will/ Kamisama no Iu Toori (2014)

What the hell is wrong with God? 
(Takahata Shun)


Director: Miike Takashi
Screenwriter: Yatsu Hiroyuki
Stars: Fukushi Sota, Kamiki Ryunosuke, Yamazaki Hirona
Origin; Japan
Runtime: 117 minutes
Sinopsis: High school students forced to play a game for the sakes of their lives
Based on manga by Kaneshiro Muneyuki and Fujimura Akeji

The movie initiated with a saying from a student named Takahata Shun and a question from a student named Amaya Takeru. Both of them saw their lives as meaningless. But then, suddenly, they have to face with games which can take their lives. The first game is the game called Daruma ga Koronpa which has already brought some casualties and the remaining students were desperate to think what they should do to stop the Daruma. In here, Satake played by Shota Sometani was the one who told how to win the game calmly. Then, this first sequence showed me how the story would be continued in the following scene. I'll say Miike Takashi folded up the story interestingly. Well, I haven't seen the manga, but this movie is interesting. It's bloody and gore, but it's not the only thing that presented in the movie. You could see some values about how to live and how to see how valuable your life, especially for the high school students.

Speaking of high students, it's kinda bring back memories. Fukasaku brought Battle Royale live-action adaptation earlier which also had a similar plot: high school students fought for their lives. The movie received controversial response from the audience, yet it's successful to make its point as one of the respectable movies, coming from Japan. And for this movie, I saw some responses about it. One of my friends found this movie is a bit confusing because the 'games' came out from nowhere. Well, for me, it can't be helped since it's based on manga and Miike needed to shorten the length of the manga into two-hours movie. Making the manga into this movie is challenging itself. However, I'd think it was not bad a live-action adaptation. Well, it's started in the middle of the game, but it gave a good explanation about the premise of the manga. It worked for me, but everyone had their own way of interpreting the movie. However, I'd might be lying if there is no weakness in the movie. Manga with survival theme usually had many characters and the movie is a bit failed in showing the depth of a character since it had only two hours to present the story. Other than that, this movie looked like a bit absurd, haha. But, it's just a matter of you haven't read the manga or not. Personally, this movie is a bonus for me because I could see Kamiki and his evil smirk. That's all.

(enjoy the trailer)

Credits:
International Film Festival Rotterdam @ youtube

Friday, April 1, 2016

About a Film: As Above, So Below (2014)

I want the truth
(Scarlett Marlowe)


Director: John Erick Dowdle
Screen writer: John Erick Dowdle and Drew Dowdle
Stars: Perdita Weeks, Ben Feldman, Edwin Hodge
Origin: USA
Run time: 93 minutes
Sinopsis: An arkeolog who continue her father's quest of philosopher stone

Found footage movie is real hit these days and the people there seemed never feel bored to make a movie with this kind of premise and this movie is being of it. At first, I decided to watch this movie because it's sci-fi thriller (I like to watch this genre recently) but I felt a bit bothered when I found that this a found footage movie. It's kind of enough for me to watch this type of movie but, I gave it a try, Well, this movie is....a bit promising because it's bit different than the other found footage movies which always (not always) about the ghost and its appearance. This one talks about alchemist and I found it pretty cool. The story begins with an arkeolog named Scarlett hunts 'Rose Key' which turns out to be the key of his father's quest of philosopher stone.
I'm not a fan of alchemist, though it's pretty amazing for this movie to employ the idea of alchemist. There are some tricks that amazes me and one of them is when Scarlett tries to uncover some writing based using cleaning products. The fire sparkles and that's just wow. It's rare for me to see this kind of scene in the movie and the director can present the sophisticated scene in a good way. Well, when I saw this scene, actually I thought that this movie is a bit better than I think. Well, that's until I saw this figure.


A pale-faced woman? No. No way. This won't be just a science thriller. A woman who looks like a ghost definitely will change how the movie will move forward (imo). I mean, a mysterious figure  with a pale face will always give you a notion about a horror atmosphere, which usually related with ghost or whatsoever. For me, this figure can be a tricky character for this kind of movie, whether this movie will stay in the science-fiction or just fall into horror category. Then, it just turn out that, yes, the science fiction is slowly mixed with the horror and eerie atmosphere. Fortunately, it's still watchable and for the record, this movie is not recommended for the ones who is claustrophobia because, yes, as Scarlett and her group dig more into the philosopher stone's tale, they need to come below the city of Paris to hunt the stone. There are some times that they need to crawl over human bones and walk into a narrow tunnel and also swi, etc. Well, this movie just present every worse moments for claustrophobia people. Other than, there are also the appearance of 'creatures' that haunt them into finding the real philosopher stone. It's pretty cliche. In sum, saw a promising premise but, it's just an okay for me.

(it's amazing that it's in Paris. Kinda remind me of The Da Vinci Code)

Credits:
IGN @ youtube

About TV series: Scream (2014)

Those are slasher movie. You can't do a slasher movie as a TV series
(Noah Foster)


Developer: Jill Blotevogel, Dan Dworkin, Jay Beattle, Michael Gans, Richard Register
Stars: Willa Fitzgerald, Bex Taylor-Klaus, John Karna
Origin: USA
Episodes: 10
Sinopsis: When a YouTube video opened the veiled town dark secret about murder


The moment I knew that there will be Scream TY series, I was like "what the hell" but I was giving it a try and it's not that bad, imo. I'm kinda like it though there is some things that I don't understand about it, but it's okay, I enjoy the show. As the first season, this is good. In fact, it's beyond my expectation. The thing is while the first episode is giving me the impression that it just Scream in series, this series actually has a different path. The first murder in the pilot episode may remind you of Drew Barrymore's scene in Scream. However, later you'll find out that the series is not only about a slasher who wants to murder the protagonist. It's a new thing that the series tells you more about the protagonist, her friends, her mother, her college life and everything. I mean, you can't find it in the movie, since it's only about 2 hours or less. But, the screen writer can develop the story into interesting and makes-sense one. And it's clever to make me confused about who the murder is. Well, there is a time that I guess the right person but, it still makes me doubt that the person is the real murderer.

One thing that makes this series interesting for me is the appearance of Noah (played by John Karna). Well, he seems the encyclopedia of murder/slasher movies and he is the one who presents all of the notions seen in those kinds of movies. It's like the movie is all about him since he KNOWS everything and yeah, some of his hypothesis are true and that's what makes him looks like the real murderer. But yeah, you won't know about that until the ending. It's pretty amazing (imo) to know that the real murderer is actually that person.

Another one, well, I must admit that I haven't watched many American TV series but, I'm just a bit surprised that there are some explicit scenes in here (which something's a bit too much to be on TV, imo). It's also a bit surpassing the movie version, but that's what makes this series refreshing than the TV version. It shows you the horror in these days. A mere stab won't affect the audience in the recent days, people need to see something beyond their imagination. Exaggerating things that still can be imaginable.
In sum, when I watched this series, I can find some hints about Craven's Scream, but the story is pretty different. Idk if Wes Craven will like this version, but I'm relieved that these people doesn't turn Craven's masterpiece into piece of shit. Ah ya, I've heard that there will be the second season of Scream. Am bit anxious and hope that it won't just be a junk series to milk out more money.

(try it)

Credits:
MTV @ youtube

Thursday, March 24, 2016

About a Film: Kindaichi Shonen no Jikenbo Gokumon Juku Satsujin Jiken SP/ Kindaichi Case Files Gate of Jail Private School Murders (2014)



Well, as the title said, it's one of Kindaichi live-action series. The story goes with Kindaichi who joined his friend to study in a private summer school to upgrade his grade. Then, as usual, there is Kindaichi, so there is a case. The students in the private summer school is killed, one by one. And Kindaichi need to solve case in order to stop many students lose their lives. Well, the story is....quite simple, but I know there will be many fangirls willing to watch this. This movie has some ikemen, after all. As for me, I watch the movie because I want to see Kindaichi live-action (I also haven't seen the MatsuJun version). Yet, it's quite funny to see Kindaichi becoming ikemen. I mean, Kindaichi that I know from the manga is not this handsome, pffft.

However, I can enjoy this SP a bit because Hiroki Narimiya is portraying a bad guy. He's always good at being a bad guy, so it's a bit entertaining. To see Kazuki Kitamura in here is also quite helpful for me to keep my eyes to this SP. And again, Nickhun. I thought I've ever saw him in another JDrama, but I can't remember the title. And Chun Wu, I recognize him from some TW drama. And that's it. Not really find it interesting, but I can force myself to enjoy it.

Sunday, March 6, 2016

About a Film: No Tears for the Dead (2014)



After The Man From Nowhere, Lee Jeong-Beom made another movie. This is it, No Tears for the Dead which also "a stranger" helps "a stranger". Well, not quite a stranger, Tae-Sik Cha (Won Bin) knew So-Mi Jeong (Kim Sae-Ron) a bit, but still Won Bin is "the man from nowhere". And now, Gon (Jang Dong-Gun) is also "the man from nowhere" who helps another stranger. Funny thing in here, I can't help to think that after saving the child in The Man From Nowhere, Lee Jeong-Beom wants to save the mother in No Tears for The Dead because the story is pretty similar. It seems he had a romantic idea about 'terminator man' protecting innocent people from the misfortune/bad surroundings.

About the cast. Actually, it's a bit weird for me to see Jang Dong-Gun as a bad man, even as an assassin because he always be the good guy in my dictionary. Okay, he's the good guy, in the end; but seeing him as an assassin is a big no-no. Yet, he might express an assassin in a good way, he's just not the right assassin-guy for me. And Kim Min-Hee, idk. I don't feel like anything special. She's just another heart-broken woman who lost her child. Then, I feel so excited to see Brian Tee in here. He's the bad guy in Tokyo Drift and he's appeared in the different style here. I almost think that he's Tadanobu Asano because he looks like him. The movie also has some foreign actors which make me think that Lee Jeong-Beom might want to make it as internasional as it can be by hiring them. Or just to make the 'assassin-vibe' is stronger than only having Korean assassin.

Well, the movie? I enjoy the movie, not as much as The Man From Nowhere, but yeah, it's an okay. Although it's a bit disappointing to compare it with The Man From Nowhere. The movie turns out to be an usual action thriller with no special feeling attached to it, for me. I don't know what is lack in the movie, but I have a feeling that the movie can a better one than this one. Good fighting scenes, anyway

(not a trailer, but a teaser can also be a good start, right?)

Credits:
Movieclips Film Festival & Indie Films @ youtube

About a Film: Goodnight Mommy (2014)



Yeah, right. "A mother should look out for her sons" is the best tagline for the movie. This is the first time I saw an Austrian horror film and it left me a good impression. Just look at the poster, it's pretty creepy right? and wait until you see the trailer. It's a good trailer. I mean it, it's good. The trailer is the one which makes me want to see the film, anyway. Now, for the movie, Goodnight Mommy build the intense atmosphere by only portraying few character. It's kinda "lonely" movie. Generally, the story of the film is about a severe relationship between a mother and her twins. Also. a twist to make everything's interesting. Well, it's not hard to figure the twist since I've watched the movie with almost-similar plot, but still, it's pretty enjoyable for me.

One thing that I should warned for the people who want to watch this movie is this is not your "usual" movie. This movie left you with some unsaid scene which you have to figure it by yourself or you have to imagine it by yourself. In fact, I've recommended this movie for several people and some of them can't understand well what happened within the movie. For me, who's accustomed of watching twist movies, this movie is pretty easy to understand, Yet, for the other people who doesn't, it will make the people confused and they can't enjoy the film much. That's what I've experienced, having some people saw me with questionable expression and saying that they don't know what the movie is about, However, I still believe that the movie can be a good experience for the people who haven't watched film with a good twist. It's a pretty easy to swallow the twist, imo.


(Like I said before, it's a good trailer)


Credits:
Zero Media @ youtube for the trailer

Saturday, December 5, 2015

About a Film: A Girl at My Door (2014)




This is the perfect example why I need to set a perfect time to watch certain movies. Film ini, aku tahu kalau film ini bagus, tapi kalau aku nonton film ini sehabis nonton another film which impress me a lot, I end up comparing film ini dengan film yang sebelumnya kutonton dan akhirnya berakhir dengan anggapan kalau film ini sekedar film yang bagus tanpa ada perasaaan yang kuat. Padahal kedua pemeran utama di film ini cukup menjanjikan, Bae Donna dan Kim Sae Ron. Menurutku, mereka berdua merupakan kombinasi yang kuat untuk melihat betapa menariknya film ini. Tapi, ya itulah, terhalang dengan impression lain yang kupunya sebelum menonton film ini, film ini jadinya kurang….menarik buatku. Yet, I felt the urge to write something about this film karena aku tahu film ini menarik.

Film ini menampilkan cerita tentang seorang polisi wanita yang dipindahkan sebuah lokasi terpencil untuk menjadi chief police dan di tempat baru itu, dia bertemu dengan seorang anak perempuan yang sering dibully, entah oleh teman sekolahnya atau dengan orang tuanya. Dari situlah, dimulai hubungan antara polisi wanita tersebut dengan anak perempuan yang suka dibully itu. Menariknya bahwa si anak perempuan itu ternyata tidak se’lemah’ yang seperti diduga. Si anak perempuan bahkan bisa dibilang ‘possess’ sesuatu yang membuat orang orang di sekitarnya kewalahan, termasuk si polisi wanita ini. Sementara itu, polisi wanita yang diperankan oleh Bae Donna juga bukan sembarang karakter yang hanya menunjukkan kalau dia seorang polisi wanita. Polisi wanita ini pun terkait dengan suatu hal yang seringkali dianggap sebagai ‘masalah’ dan tabu di kalangan masyarakat banyak. Hal ini pula lah yang membuat polisi wanita ini dipindahkan ke sebuah lokasi terpencil dan akhirnya bertemu dengan anak perempuan itu. Keterkaitan konflik di antara kedua karakter ini akhirnya mulai terkuak dan bertemu di satu titik dimana keduanya harus dihadapkan dengan hal yang ingin mereka hindari, tapi untungnya pada akhirnya hal ini bisa dilewati dan akhirnya cerita ini berakhir dengan ‘bahagia’. Nah, disini aku pake tanda kutip untuk menulis kata bahagia untuk di akhir cerita ini karena akhir dari cerita kurang lebihnya sedikit membingungkan buatku, aku seperti dihadapkan kembali dengan akhir cerita ‘Old Boy’ walaupun sensenya tidak se’powerful’ ending dari ‘Old Boy’ tapi yah, ada sedikit kebingungan yang kumiliki saat melihat ending dari cerita ini. Dalam hal ini, aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum kecut sambil mengingat-ingat kalau kebanyakan film Korea memang suka menyajikan ending seperti ini. Kita diajak bertanya-tanya dan menginterpretasikan sendiri kenapa endingnya bisa seperti ini. Yah, walaupun kecut, aku juga sadar kalau hal itu yang membuat beberapa film Korea terlihat sangat menarik di mataku. Intinya, film ini memang worth to try. Bukan hanya sekedar film untuk menghabiskan waktu senggang, tapi film yang bisa dibicarakan dengan teman karena ada beberapa isu menarik di dalam film ini. Pokoknya salut untuk July Jung yang sudah membuka debutnya dengan menyajikan film berkelas seperti ini dan aku harap ini bisa membuka path untuk July Jung untuk kembali menyuguhkan film seperti ini untuk meramaikan perfilman di Korea Selatan.

Nah sekarang, terlepas dari cerita di film ini, Kim Sae Ron emang paling cocok memerankan peran semacam ini. Aku mulai merhatiin dia sejak dia beradu akting dengan Won Bin di ‘The Man from Nowhere’ dan agak sedikit kaget ketika melihat dia sekarang sudah sebesar ini (berasa tua gitu deh, haha). Aku sih senengnya ngeliat dia sepertinya berada di jalan yang benar dan bakalan jadi promising Korean actress yang bakal kuikutin film-filmnya karena aktingnya tambah mateng dan dia pintar untuk memilih karakter-karakter menarik yang bisa diperankan, seperti di film ini. Karakter yang dia mainkan, walaupun aku sebelumnya banyak melihat film dengan karakter seperti ini, bukan karakter yang mudah untuk dimainkan aktris yang masih muda. Dia harus bisa mendalami dan mengerti jalan pikiran anak perempuan ini yang kuanggap cukup berbeda dibandingkan anak perempuan di usianya dan untungnya, dia bisa menghidupkan karakter itu dengan baik dan menarik. Aku suka macam-macam ekspresi yang diperlihatkan oleh Kim Sae Ron di film ini, beberapa bikin aku kasian, muak, dan bertanya-tanya. Bae Donna pun juga menunjukkan kualitasnya saat memainkan film ini. Pada awalnya perannya terlihat sangat biasa, tapi lama kelamaan dia bisa menunjukkan betapa kompleks peran yang dia miliki. Dia bukan sekedar polisi wanita yang ingin menunjung tinggi keadilan untuk orang-orang di sekitarnya, tapi aku bisa merasakan kalau karakternya ini juga ingin diberikan suatu keadilan oleh orang-orang di sekitarnya. Dia tidak ingin orang lain memandang dengan aneh karena masalah personal yang dia miliki. Film ini keren dengan segala kompleksitasnya dan juga walaupun banyak isu yang bisa ditemui di film ini, film ini tidak lupa untuk mengakarkan pada satu inti masalah yang menjadi basis dari film ini. ‘A Girl at My Door’ benar-benar menyajikan pilihan tema yang menarik dan pintar untuk menceritakan tale seorang anak perempuan yang membutuhkan tempat perlindungan.

 Tidak lupa aku naro trailer disini untuk mengundang orang-orang menonton film ini


 (take a sip of the trailer!)

Credits:
One Ring Korean Film Trailers @youtube 

Wednesday, September 16, 2015

About a Film: It Follows (2014)









Sebenarnya rada telat kalo baru ngasih review sekarang, tapi ya sayang juga kalo ngga nulis apa-apa tentang film ini soalnya film ini sempet happening banget waktu pertama-tama rilisan. Singkatnya sih, beberapa, kebanyakan orang yang kutanyain tepatnya, banyak yang demen film ini. Ya kalo menurutku sih, film ini ngga jelek sih, premisenya lumayan kok walaupun it’s so simple. Bisa dibilang kalo judul film ini sudah menjelaskan semua tentang film ini. Film ini tentang sesuatu yang mengikutimu, ya udah sih itu aja. Kamu diberitahu kenapa ‘sesuatu’ itu bisa mengikutimu dan gimana caranya kamu menghentikan ‘sesuatu’ itu mengikutimu (yang sebenarnya menurutku adalah gampang buat dilakuin sama remaja disana, tau deh kalo disini, lol). Cuman ya sama film ini ‘cara gampang’ itu dibuat sulit ditambah dengan emosi si tokoh yang berombang-ambing karena dia diikutin sesuatu yang ngga jelas darimana antah berantahnya. Film ini sebenarnya film yang harusnya mudah untuk terselesaikan, tapi ya sama si sutradara, film ini dibikin ribet dan untungnya cara si sutradara bikin film ini lebih ribet masih bisa diterima sama aku sebagai seorang penonton. Ya, disinilah aku pay respect to the director. Ngga gampang lho buat sesuatu yang simple itu jadi sesuatu yang ribet. Dan aku sukanya sih, si sutradara berhasil buat bikin film ini benar-benar terlihat dari sisi pandang seorang remaja yang pikirannya ngga seribet orang dewasa yang harus ini dan itu. Dari film ini, aku bisa lihat gimana cara seorang atau sekumpulan remaja solve sama issue yang mereka ngga tau dengan pasti darimana asalnya dan tentang apa itu dengan jelasnya. Mereka cuman dapat info tentang ‘sesuatu’ dari mulut ke mulut, ngga sampe cari tahu tentang sesuatu itu dengan lebainya. Coba bayangkan kalo yang diteror itu sekelompok orang dewasa, mesti ceritanya akan lebih kompleks dengan alur cerita dimana para pemerannya pasti akan melakukan pencarian informasi tentang ‘sesuatu’ disana sini, atau mungkin lengkap dengan eksperimen buat memusnahkan ‘sesuatu’ sampai habis. Pokoknya jadi lebih ribet lah, kalo yang diteror ini orang dewasa.

Nah, kalo diliat dari plot ceritanya, introduction film ini menurutku terlalu ‘wah’ dibanding dengan apa yang akan kuharapkan terjadi pada adegan-adegan selanjutnya karena adegan setelahnya ya ternyata ngga se-attraktif pembukaannya, menurutku. Dan kalo untuk sebuah film horror-terror remaja sih, aku bisa bilang kalo film ini cukup harmless. Kamu ngga bakal nemuin adegan berdarah-darah yang berlebihan dan adegan kejar-kejaran yang lebai dan penuh dengan teriakan sana-sini (well, ada sih, tapi ya ngga lebai). Film ini cukup ringan menurutku, typical your saturday night movie yang bisa ditonton bareng temen-temen tapi ya ngga pake jejeritan lebai. Cuman cara si sutradara menggambarkan ‘sesuatu’ yang mengejar bisa cukup menahan nafas sih. Si sutradara bisa aja nyiptain ‘sesuatu’ dari berbagai versi dan masing-masing dari ‘sesuatu’ punya sisi charming tersendiri (atau sisi pervy sendiri-sendiri, lol) yang bikin mereka mengejutkanku. Terlepas dari kejutan-kejutan yang ada tiap ‘sesuatu’ itu mengikuti si pemeran utama, film ini cukup sepi dibandingkan film-film horror-terror yang biasanya kuliat, aku malah ngerasa kalo film ini ada kalanya malah ngingetin aku sama film ‘Drive’ yang rame-ramenya ada di beberapa adegan dan selebihnya kerasa sepi. Sebenarnya sih malah suasana seperti itu bagus, saking sepinya, terror yang dirasakan malah dapet banget buatku. In general, film ini ngga jelek menurutku, it’s worth a try, tapi emang rada overrated sih kemunculannya karena it’s not that beyond my expectation. But, it’s a matter of taste after all, tiap orang punya selera dan referensi masing-masing buat nonton film. I’m kinda understand kalo ada orang yang bisa suka banget sama film ini.


 (take a sip of the trailer!)


Credits: Movieclips Film Festivals & Indie Films @ youtube