Synopsis: A woman find out more than her fiance's habit of hoarding
tenang, ledis, ada aa disini
Kalau diliat dari judulnya, tau dong ini
filmnya bakal kayak gimana. Sebenarnya diliat dari posternya pun, paling ngga
ente sekalian pada taulah jalur filmnya bakalan kayak gimana. Kalau aku sendiri
sih, milih nonton film ini gara-gara I belong to that category, hoarder. Seneng
banget numpuk-numpuk barang, sampe kadang bingung sendiri mau ditumpuk dimana
lagi tu barang. Belum lagi, ujung-ujungnya diomelin gara-gara kamar yang
katanya mirip *ehem* kapal pecah (ngga kebayang gimana bentuk kapal pecah yang
sebenar-benarnya). Nah, pokoknya alasan yang sepertinya utama sih karena itu,
aku mau liat gimana film tentang hoarder yang dibikin semacem horor atau
thriller (yang mana aku yakin ngga bakalan ada kapal pecahnya)
neng atut, abang dimanee...
Seperti biasa, aku mau mulai dari plot
film ini. Ella (Mischa Barton) dan temannya, Molly (Emily Atack) mendatangi
sebuah gedung penyimpanan barang dengan maksud untuk mencari tahu clue dimana tunangan wanita tersebut
berada. Di beberapa menit pertama, keadaan masih aman tanpa ada kecurigaan yang
berlebih kecuali kenapa mereka bisa sampe di lantai yang gelap dan mirip gudang
yang ngga kepake. Terus, akhirnya mereka ketemu sama ruangan yang disewa
tunangan wanita tersebut dan di dalamnya, ternyata menunggu sesuatu yang tidak
mereka harapkan. Molly, tanpa sempat melarikan diri, jadi korban sebuah makhluk
yang agak mengingatkanku dengan makhluk di The
Descent, walaupun lebih kurang meyakinkan bentuknya (lol). Pokoknya setelah
Molly diambil dan entah diapakan oleh makhluk tersebut, teror pun dimulai. Ella
tersebut harus berjuang untuk melarikan diri dari makhluk aneh tersebut,
bersamaan dengan beberapa hoarder yang sedang berada di gedung
tersebut.Pertanyaan sekarang adalah apakah Ella berhasil menyelamatkan diri
atau dia akan mengalami nasib yang sama dengan Molly? Ditonton aja biar tahu.
ta kilik kilik telinga ente
Okelah, barusan aja aku encouraging ente
sekalian buat nonton, tapi honestly kalau
aku disuruh jujur, The Hoarder adalah
tipikal film horor yang standar. Akting standar, plot standar, bahkan bagian yang
seharusnya bikin aku terkejut terasa standar. Film ini sangat bisa dibaca. Kamu
bisa tahu siapa yang akan jadi korban, bahkan siapa orang jahatnya. Bagi
orang-orang yang seneng film horor dimana ente harus nebak siapa orang
jahatnya, film ini kurang menantang (duile, sok iyes banget dah). Cuman ya
kalau ternyata udah terlanjur nonton film ini setengah jalan ya, dilanjutin aja
sih (kayak aku) karena film ini punya nilai cukup untuk dikategorikan sebagai
film horor. Standar lah. Jalan ceritanya cukup tertata dengan akting yang passable dan mungkin bagi beberapa
orang, film ini cukup terselamatkan dengan adanya Robert Knepper, salah pemeran
Prison Break yang nampaknya didapuk
sebagai ‘pemanis’ film ini.
Cast: Satoshi Ohno, Haru, Eiko Koike, Kazuki Kitamura
Origin: Japan
Runtime: April 13- June15, 2016
Synopsis: A man who can find it hard to show love toward someone
neng, pilih deh ikan yang mana
I'm so into JDorama and KDrama lately and I have been so much time in watching some series randomly and I found some of them are good and others are not so good, that I've regretly decided to hold it before finish it. Now, after put some reviews about film, I decide to put review about JDorama and it will be Sekai Ichi Muzukashii Koi. Yes, that dorama, the one with Satoshi Ohno in it. Well, aren't you excited? Because I am! 💃💃💃 I adore his acting in Kagi no Kakatta Heya and Maou; and I know for sure he will do a great job within the dorama. Aside him, the opposite lead character, Haru is not a bad one. I know her from Grasshopper and albeit, she just appear in the screen for some time, I'm impressed on how she can use her 'little' part to gain great impact for the other characters in Grasshopper. There are also some supporting actors and actress that always be my favorite, two of them are Eiko Koike and Kazuki Kitamura. They are superb and I never doubt their skills in acting. Thus, I find myself tempted in watching this dorama, even though I haven't spent much time in watching office romance dorama.
apaan.....apaan.....apaan......
cup cup wau wau
It begins with the story of a 34-year-old man named Samejima Reiji (Satoshi Ohno). He is the director of a first-class hotel. He is famous, handsome, rich, but, he is single; he have never succeeded in having relationship with woman. It's all thanks to his had personality. He have done several omiai with women of his criteria, but they all rejected him after meeting him for the first time, whereas Reiji urged himself to find a fiancee as soon as possible. His urge is caused by his rival in the business, Wada Hideo (Kazuki Kitamura). Wada is the president of the top hotel in Japan and he likes to tease Samejima. One day, Wada teased Samejima because he is single and Samejima decided that he has to a fiancee in the next Hotel Association Party. His pledge then brought him to meet Shibayama Misaki (Haru), a new worker in his hotel. He soon find himself attracted to her. However, his journey to get Shibayama's heart is not easy to do. Samejima has no experience in courting a girl and Shibayama is pretty much an airheaded girl. He got some supports from people around him, including his personal assistant, Muraoki Maiko (Eiko Koike), his driver, even from his rival, Wada. He gradually changed his eccentric personalities, only for Shibayama and Shibayama later understood that Samejima carried a special feeling. But, Shibayama does not think that a relationship between a boss and his underling is appropriate. That matter made Samejima broken and he almost give Shibayama up before got some encouragement from people around him. And now, what will he do to win Shibayama's heart? and will she accept Samejima's feeling? You people need to find the answer by yourself.
i love thiiiiiiiiiiis scene
Now, it;s time for my opinion and this is seriously a good drama. Well, romance is the most mainstream genre in dorama but, this one is a bit different than any romance dorama that I've watched (I admit that I only watched several romance dorama, lol 😄😄😄😄). The story is well-built and the characters had its own interesting past. While I feel that Samejima is quite a bit tsundere, but somehow Ohno can make its own version of tsundere. It's pretty different when I compared it with MatsuJun's version in HYD. I feel like Ohno's version is cuter because he portrayed Samejima as a childish person, but he cannot show it in front of Shibayama and put a brave and wise front. Somehow, I can feel how hard and difficult for him to change himself, to be the person who can show his love sincerely to the one that he loved. Well, this is really 'Sekai Ichi Muzukashii Koi' because I can see how hard Samejima's struggle in getting closer to Shibayama. He forced himself to drink milk, Shibayama's favorite drink albeit he didn't like it. He named his upcoming restaurant after the name that has been prepared by Shibayama; and many others. His struggle is amusing, though it's heart-wrecking in some points. There are also a story between Muraoki and Wada, that Wada confessed his love to her. However, Muraoki seemed hesitate to accept his feeling because she didn't want to betray his boss by having a relationship with his rival. Another story is about some quirky Samejima's underlings and their hidden agenda to make Samejima and Shibayama dating, so that Samejima will be in a good mood all the time. I really enjoy my time watching the dorama and I have no complaint in spending my time. I hope there will be another dorama with this interesting premise. I really love this 'Isanami-Suyao' and 'Isanami-Shiho' couple. Maybe I should search for another dorama which is written by Shigeki Kaneko. Well, I'm so excited!
Cast: Jeffrey Combs, Bruce Abbott, Barbara Crampton
Origin: USA
Runtime: 104 minutes
Synopsis: A young man discovers the secrets of immortality
Based on H.P. Lovecraft's short story Reanimator: 1942
ahem
Siapa sih yang ngga tau film ini?
Kebanyakan orang yang suka film horor jadul biasanya memastikan mereka pernah
menonton film yang legendaris ini. Well, aku berani bilang film ini legendaris
karena film ini sepertinya tidak pernah absen dari list film horor yang
menampilkan adegan yang gore. Nah, kalau sudah kebanyakan orang yang tahu
tentang film ini, apa perlu aku nulis post tentang film ini? I’ll see it why
not, siapa tau aku punya pendapat yang berbeda dari kebanyakan orang. Siapa tau,
aku kurang yakin juga, melihat sudah berpuluh-puluh orang menulis tentang film
ini. But well, ngga masalah kan?
pak, liat belakang, pak
Kegilaan sudah ditunjukkan dari awal
film ini dimulai. Seorang wanita, seorang pria, dan 2 orang polisi
terus-terusan mengetuk pintu ruangan seorang dokter dan dari suara yang berasal
dari dalam ruangan tersebut, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh
sedang terjadi di dalam ruangannya, namun ruangan tersebut terkunci dan mereka
mendobrak masuk. Ketika mereka berhasil masuk, betapa kagetnya waktu mereka
melihat apa yang sedang terjadi. Dr. Gruber sedang terbaring di lantai dan Mr.
Herbert West yang berada di bawah pengawasannya, terlihat seperti memegang
sebuah suntikan. Tapi, sebelumnya Dr. West berhasil menyuntiknya terdapat
beberapa komplikasi pada Dr. Gruber dan dia pun meninggal dengan kondisi
mengenaskan. Hal ini kemudian mempertemukan Mr. West kepada Dr. Cain dan Dr.
Hill. Mereka bertiga memiliki ketertarikan yang sama, yakni pada otak dan
kinerja organ tersebut. Namun, Mr. West memiliki cara berbeda untuk memulai
penelitiannya tentang otak dimana dia mempunyai keinginan untuk menghidupkan
kembali orang yang sudah mati dengan sebuah suntikan yang sudah dia kembangkan
selama beberapa waktu. Kemudian, Dr. Cain yang memerlukan roommate akhirnya
bisa mengenal Mr. West sedikit demi sedikit. Dr. Cain menyadari bahwa Mr. West
tidak menyukai kuliah yang diberikan Dr. Hill, walaupun mereka sama-sama
tertarik pada studi organ yang sama. Satu waktu, dia menemukan bahwa ada
sesuatu yang aneh pada teman satu rumahnya ini. Tunangan Dr. Cain, Meg, juga
merasa ada yang aneh dengan Mr. West. Namun, mereka tidak bisa mengkonfrontasi
lebih jauh apa yang aneh dengan Mr. West. Sampai mereka melihat sendiri apa
yang sebenarnya dilakukan oleh Mr. West.
hai, neng
Baiklah, sudah lama banget aku pengen
nulis tentang film ini, tapi baru kesampaian sekarang. Overall pendapat yang
aku punya adalah film yang cukup menjijikkan. Gimana ngga, dari awal adegan
gore udah mulai sliweran di depan laptop dan adegan gore ini semakin menuju ke
klimaks cerita malahan semakin banyak dan fantastis (fantastis dalam artian
ngga bisa dikonsumsi buat semua orang, yakin deh). Kalau diliat dari segi cerita,
film ini sebenarnya film dengan tema yang cukup bagus dimana seorang dokter
pasti mengharapkan bisa menyelamatkan pasiennya dan menghindari kematian; tapi
eksekusi film ini sedikit banyak terasa konyol karena beberapa adegan, entah
kenapa membuatku tertawa. Rasanya hampir seperti menonton Evil Dead, tapi settingnya lebih serius, di bidang kedokteran
apparently. Dan film ini bisa dibilang lumayan edukatif tentang ilmu kedokteran
dimana sebagai penonton, aku disuguhi dengan berbagai penjelasan tentang human brain dan replika dari otak
manusia yang blenyek-blenyek (lol). Pertarungan opini antara Dr. Hill dan Mr.
West mengenai kinerja otak manusia juga asik disimak, oddly ditambah dengan
adanya Dr. Cain yang perlahan berubah posisi dari seseorang yang mengikuti Dr.
Hill menjadi teman sekamar membantu penelitian gila Mr. West. Di satu sisi,
bisa dibilang film ini seperti versi lain dari film zombie. For me, this movie
is unusually sinister. There is something more than a story of a mad person
wants to reanimate dead body. Indeed.
Cast: Ellen Page, Evan Rachel Wood, Max Minghella, Callum Keith Rennie
Origin: Canada
Runtime: 101 minutes
Synopsis: Two daughters need to survive in the middle of forest after losing their father
Based on the novel Into the Forest by Jean Hegland
awas koen!
A film by Patricia Rozema, played by
Ellen Page and Evan Rachel Wood. A director, two female lead actresses and my
brain is just hypothesized by itself. Is it somehow related with feminist’s
view or something near that? One thing that I know about the movie before I
decide to watch it is it’s a survival movie. Okay, women and survival. I’m
hoping there will be a zombie thing but, it’s just in my imagination. No one
said about zombie in the movie. Instead, the movie is categorized as a
science-fiction drama. So, I’m thinking there will be alien, but….yeah, maybe
it’s about alien. Definitely.
waduh waduh
The movie introduces me with a family of
three. A Dad (Callum Keith Rennie) and two daughters named Eva (Evan Rachel
Wood) and Nell (Ellen Page). The two daughters had different personalities. Eva
was…calmer than Nell. While Nell was always complaining everything straightly,
Eva always kept everything in her mind. One day, a certain event made some
changes in their lives. There was an outage and suddenly, they needed to learn
how to live without power, in a secluded area since they live in the middle of
forest. Fortunately, their father knew how to handle the situation and they
could live without having a hard time; even though, the daughters started to
complaint about how the things changed. Things turned worse when the father
died in an unfortunate accident. The stress between the daughters began to swell
up and they started to fight each other. The more they lived without the power,
the more they began to realize how different they were. Then, in one rainy
night, Eli (Max Minghella), Nell’s boyfriend, came to their house and he invited
Nell to come with him. To go to the place where the people gathered, so they
could live without holed up in the house without power. So, what would Nell do?
Would she leave her sister alone or she just stayed with her, despite of all the
fighting that they had?
aku syedih
After I see the movie, I feel like praising
myself because I can finish the movie without any intention to skip any scene.
You see, there is no alien, at all, in the movie. It’s purely drama with….yeah,
I know why it’s a science-fiction movie. Usually, a drama movie like this will
bore me, certainly. But, this one isn’t. I can emotionally relate to this movie
because I have a sister and we had…our problems. Yet, I love my sister and I’ll
help her if she needs any help. This movie shows me the depth of sisterhood, in
the hardest moment. Another thing, just like the title, Into the Forest depicts how people lived without any power. I
figured that the movie and the novel (since the movie based on a novel) can be
a perfect study for Eco criticism where people need to give a deep thought
about the environment. I think both the writer of the novel and the director of
the movie want me to realize the dependence of people with power and somehow,
they want us to see that we need to go back into the forest, back to nature,
where the things won’t be rotten and expired. Solid performance from Evan Rachel
Wood and Ellen Page because the two of them need to do many things in here.
Hunting, chopping wood, skinning pig, and many others to show their struggle,
living in the middle of the forest. I’d also admire how Patricia Rozema
captures the moments and put it together in one beautiful movie. Nice! And no
alien, my bad.
The only reason why the Devil can win because of the negligence of the good guys
(Nam Hee-Joo)
Director: Mo Hong-Jin
Screenwriter: Mo Hong-Jin
Cast: Shim Eun-Kyung, Yoon Je-Moon, Kim Sung-Oh
Runtime: 108 minutes
Origin: South Korea
Synopsis: After 15 years, a young Nam Hee-Joo have to deal with the killer of her father
awas lho kalo ngga nonton!
I watched the movie after saw Shim
Eun-Kyung’s performance in Miss Granny and
it’s quite intriguing to see her in suspense-thriller movie. Yes, despite of
the title which suited for a romance movie, this one categorizes as a thriller one.
Thus, I spent no time in finding information about the movie and decided to
watch it in the near moment. Well, I find it quite shocking because the movie
is released in the early moment of 2016. This movie is definitely out of my
radar! Whereas, I’ll always try to spend some time for finding some Korean
thriller movies (you see, I favor Korean thriller movies). Plus, the cast of
the movie is quite good, with Shim Eun Kyung as the lead actress; I’m expecting
the movie will be a good one.
enak juga lantai dikoranin
The first scene of the movie is taken
place in a court. A perpetrator named Kim Gi-Beom (Kim Sung-Oh) had his 15-year-imprisonment
sentence as the result of his wrongdoing. Yet, the sentence was not the one
that the families of the victims want and all of them were complaining about
how unfair the result was. In the midst of the rage of the families’ victims,
there was a -young little girl named Nam Hee-Joo (Han Seo-Jin) who saw the
scene before her eyes in silence. She couldn’t say anything and didn’t know
what to do, except to flee from the court room. Later, it was explained that
Nam Hee-Joo was the family of the victim as her dad was killed by the offender.
Because of the murder, she began to live in solitary with the support of her
dad’s subordinates whom were policemen. She started to work in police office as
a janitor while the policemen gave her a great care, including Detective
Dae-Young (Yoon Je-Moon) and Section Chief Ban (Kim Won-Hae) who knew Hee-Joo’s
father a lot and wanted to give Kim Gi-Beom a great punishment. Eventually, Kim
Gi-Beom was out from the prison and ready to come back to the society. Yet, the
moment he came out from the society, there were some people murdered, rather in
the similar method as 15 years ago. The strange thing was the policemen already
had their eyes to Kim Gi-Beom right after he came out from the prison and they didn’t
find any proof if he was the one who committed the crime in this moment. Then,
who was the real murderer? And how Nam Hee-Joo (Shim Eun-Kyung) dealt with her
life when she knew Kim Gi-Beom was out from the prison?
tadinya kupikir ini film 'the Machinist'
As usual, Korean thriller movie usually
begins with a tragedy. This movie has the similar opening as many other movies
with the story of the lead character that loses her father due to unfortunate
circumstance. This fact leads to the complicated life of the lead character as
well-depicted by Shim Eun-Kyung. She lived alone, quite absorbed by Nietzsche’s
thought about the good and the bad guy, and secretly investigated about the
murder that Kim Gi-Beom did 15 years ago. Oddly, the movie is reminded me of I Saw the Devil which the lead character
had an intention to do revenge by himself. Yet, I also find it different
because Missing You is rather
melancholic than I Saw the Devil because
the movie is described from different perspective, it’s a movie of a young girl
who’d lost her father. The bittersweet life which is led by Nam Hee-Joo
sometimes seemed childish in its own way. On the other side, I can say that the
movie is like Monster without any
comical expression. It’s definitely darker and gloomier than Monster! Personally, I’m gonna say that
the movie might be unoriginal in theme but, the plot is quite good. It’s
confusing for the first glance (yes, I find some things that are better
explained; but, they aren’t) but, the moment it progressed, it becomes an
interesting development. Thumbs up to the final scene of Nam Hee-Joo and Kim Gi-Beom
because it is…impressive and it definitely captures the sadness of a little
girl who’d missed her parents. Last words, Missing
You is a movie that you don’t want to be missed.
Casts: Chris Sarandon, William Ragsdale, Amanda Bearse
Origin: USA
Running time: 106 minutes
Synopsis: A teenager haunted by his neighbour
ea apaan tu!?
When my friend mentioned about this
movie, what I have in mind is Colin Firth’s Fright
Night and I really didn’t know that it’s a remake version of this flick.
Then, I got a copy of this one and why don’t I watch it? Besides, my friend
also told me that this one got some amazing music (yeah, I got hooked with 80’s
music since forever) so, yeah. Let’s begin the show!
Makan nih!
The premise of this movie is simple. A
young boy named Charley Brewster find out some weird things about his new
neighbors. Something’s terrifying and unexpected. Then, he tried to tell
everyone about it; begins with his mother, friends, even police. But nobody
believed him. He went to his last resort, Peter Vincent, whom he believed can
solve the problem. But, the sad thing is Peter Vincent is just an actor who
portrayed his role on television. Peter Vincent is not the real person who can
help him to handle his neighbors. Then, Charley fall into a deep desperation
because his neighbors began to invade his house and he couldn’t do anything to
save his life. Even later, his friend and girlfriend’s life was also on stake.
He should try anything to keep everyone saved and what will he do to defeat his
neighbors? Just give it a try to watch it, even better if you haven’t watched
the latter version.
Ih, atit tau!
Now, this Fright Night is made for teens back there. I had imagined that this
is one of those movies that teens watched in Drive-in Theater, where the girls
went screaming and the boys were the ones whom put their hands around their
shoulders. Heh. But, it’s not as stupid as the other stupid movies that I’ve
seen. The simplicity of the story makes it easy to understand and some funny
scenes make me laugh. A bit. This is like a cheesy and stupid version of Dracula with similar story about the
vampire and the triangle love between the main character, the girlfriend, and
the vampire. For me, albeit this movie is from 1985 which waaaaaay older than
me, I find it enjoyable. Eh yes, I love Evil Ed and his maniacal laugh, I bet
that will be one of the things that remind me of the movie. Other than that is
the ugly form of the vampire. This is fascinating because the movie in this era
always had that ugly form of a monster. And that is different with the usual
vampire which always portrayed as the one who came back to ashes when they
encountered with the light of the sun. Now, I think I should try to watch the
newer version of Fright Night because
it seemed more sinister than this version, just like the older Evil Dead to the newer Evil Dead.
Synopsis: A boy magically changed the lives of a father and a mother who lost their son.
jadi gini lho, kakak....
Lagi, sebuah film horor thriler dari
Mike Flanagan dan the bonus part is Jacob
Tremblay is on the movie. Tau kan, anak kecil yang sempet bikin geger di Room karena aktingnya yang bikin
beberapa orang terharu dan nangis bombay cuman gara-gara dia mau potong
rambutnya (lol). Nah, disini dia kembali adu akting, bukan dengan Brie Larson,
tapi dengan mbak Blue Surfer Kate
Bosworth. Dilihat dari posternya sih, pasti bakalan ada kupu-kupunya di film
ini. Sebelumnya, aku sempet liat trailer
film ini juga sih dan dugaanku sih film ini akan lebih daripada film horor
thriler, ada bumbu drama-dramanya dikit pastinya. Nah, aku coba kupas film ini
sebelum sharing my opinion about it.
yuk neng, dah dateng tuh
Diawali dengan sebuah ketegangan seorang
laki-laki, film ini dari awalnya sudah mengungkapkan sebuah kegetiran yang
menunjukkan seorang ayah yang harus mengambil keputusan berat menyangkut nyawa
seorang anak. Kemudian, cerita berlanjut dengan sepasang suami istri Hobsen,
Mark (Thomas Jane) dan Jessie (Kate Bosworth) yang berniat untuk mengadopsi
seorang anak dan seorang pekerja sosial, Natalie (Annabeth Gish) memilihkan Cody
(Jacob Tremblay) sebagai anak asuhan mereka. Datanglah Cody ke keluarga
barunya, lalu sedikit demi sedikit terungkap alasan kenapa pasangan tersebut
mengadopsi Cody dimana mereka berharap Cody bisa menjadi pengganti anak mereka
yang sudah meninggal. Semuanya berjalan sangat baik sampai di titik ketika
pasangan suami istri ini mengetahui sebuah kemampuan yang dimiliki oleh Cody.
Kemampuan yang membuat Jessie terlena karena dia bisa bertemu kembali dengan
anaknya yang telah meninggal, Sean (Antonio Romero). Namun, berbeda dengan
Jessie, Mark tidak melihat kemampuan Cody tersebut sebagai sesuatu yang harus
dimanfaatkan. Lama kelamaan terdapat sedikit cekcok antara Mark dan Jessie,
tanpa mereka ketahui kalau kemampuan Cody ini datang dengan sesuatu yang
mengerikan. Nah, apakah Mark dan Jessie berhasil menghadapi hal yang mengerikan
tersebut dan bagaimana dengan nasib Cody sesudahnya?
ealah, kok apik kie...
Bisa dibilang, aku suka dengan film ini.
Ada beberapa detil kecil yang membuatku bisa membayangkan keterpurukan
emosional yang dimiliki karakter Mark dan Jessie, begitupun dengan sikap innocent yang ditunjukkan oleh Jacob
Tremblay sebagai anak kecil yatim piatu yang memiliki masa kecil dimana dia
harus berpindah-pindah dari satu orang asuh ke orang tua lainnya. Belum lagi
visual cantik di sepanjang film yang digambarkan dengan sekumpulan kupu-kupu
berwarna-warni. Mungkin bagi orang-orang yang tidak menyukai kupu-kupu, adegan
ini bisa jadi sebuah adegan yang menyiksa tapi bagi orang-orang yang mengakui
kupu-kupu sebagai makhluk cantik, adegan ini bisa dibilang…..magical. Bayangkan saja di salah satu
ruangan rumahmu, ada banyak kupu-kupu yang terbang dan mengelilingimu. Well,
sebagai sebuah film horor, film ini malahan tidak menampilkan sesuatu yang
menyeramkan, tapi sedikit dramatis. Aku ingat, salah satu temenku menyebut
kalau film ini sama sekali tidak menyeramkan. Aku setuju sih dengan pendapatnya
karena film ini sama tidak membuatku takut. Hanya saja, film ini memberikan
sesuatu yang lebih dengan adanya kesan bahwa hubungan antara Ibu dan anak
adalah sesuatu yang kuat. In a way, aku berpikir kalau film ini seperti Room dengan adanya sedikit bumbu misteri
disana dan disini. Akhir kata, film ini surprisingly cukup menarik untuk
ditonton, apalagi dengan chemistry yang
baik antar para pemain membuat film ini tidak sekedar menjadi film horor yang
bikin deg-degan.
Mars will come to fear my botany powers (Mark Watney)
Director: Ridley Scott
Screenwriter: Drew Goddard
Casts: Matt Damon, Jessica Chastain, Jeff Daniels, Kristen Wiig
Origin: USA
Running time:
Synopsis: A man stranded alone in Mars
Based on Andy Weir's The Martian
waduh, sapa nih matiin lampu
Awalnya aku pikir film ini spinoff dari Interstellar karena ada foto Matt Damon di posternya dan beberapa
orang yang pernah nonton sebelumnya juga bilang kalau film ini tentang Matt
Damon yang ketinggalan di satu planet. Well, kebetulan benar-benar pas,
mengingat karakter yang dimainkan Matt Damon di Interstellar juga tertinggal di satu planet. Based on that
information, akhirnya aku memutuskan untuk nonton film ini, karena sebenarnya
sci-fi with all these planet stuffs bukan film yang biasanya akan kutonton.
Then, in no time, I was ready to watch it.
kurus dah gua pake kostum berat gini
Film ini dimulai oleh sebuah tim NASA
yang sedang melakukan penelitian di planet Mars. Mereka terdiri dari seorang komandan
bernama Lewis (Jessica Chastain) bersama beberapa kru termasuk Martinez (Michael Pena), Watney (Matt Damon), Beck (Sebastian Stan), Johannsen (Kate Mara),
dan Vogel (Aksel Hennie). Satu hari, mereka sedang mengumpulkan beberapa contoh yang bisa
dibawa untuk diteliti dan tiba-tiba datanglah sebuah tanda bahaya yang
mengindikasikan jika mereka akan menghadapi sebuah badai yang besar. Komandan
Lewis pun memutuskan untuk pergi dari planet itu walaupun mendapat penolakan
dari salah seorang krunya, Watney. Di tengah-tengah usaha mereka untuk pergi
dari planet itu, badai semakin kuat dan membuat salah satu bagian pesawat
mengenai Watney. Watney pun terlempar jauh dan komandan Lewis pun tidak bisa
berbuat banyak dan harus membuat keputusan untuk pergi tanpa Watney walaupun
dia dan kru lainnya merasa berat untuk meninggalkan planet itu tanpa Watney. Tak
lama setelah itu, NASA pun memberikan pernyataan resmi bahwa Mark Watney telah
meninggal dalam evakuasi yang dilakukan rekan-rekannya semalam. Tidak ada satu
orang pun yang tahu bahwa sebenarnya Watney masih hidup dan dia harus bertahan
hidup di tengah-tengah planet antah berantah. Tapi, apakah dia akan diam saja
menunggu hari akhirnya di planet itu atau akan bertahan sampai akhirnya ada
orang di bumi yang tahu kalau dia masih hidup? Silakan ditonton saja sampai
selesai.
"hey there" "hey you, too"
Film yang menurutku lebih bertemakan survival
daripada sci-fi ini mengingatkan aku dengan film Cast Away. Bedanya sih, terdamparnya sangat jauh dan mungkin kalau
dipikir-pikir beberapa tahun lebih awal, film dengan plot kayak gini sepertinya
terlalu menakjubkan dan berlebihan untuk terpikirkan. Paling tidak, aku pasti
akan berpikir bahwa film tentang seseorang yang harus bertahan hidup di satu
planet tanpa ada seseorang pun yang tahu benar-benar exaggerating. Kalau
filmnya tentang satu orang terdampar di satu pulau seperti Cast Away barulah terasa masuk akal. Tapi, this is it, muncullah film seperti ini. Film survival dipenuhi
dengan berbagai eksperimen Watney untuk bertahan hidup dan sebuah keuntungan
karena Watney adalah seorang botanis, jadi dia bisa memikirkan bagaimana
caranya menumbuhkan sesuatu di planet Mars yang terkenal tandusnya ini. Film
ini film ‘pintar’. Well, pintar karena aku disuguhi berbagai macam istilah
tentang space, pertanahan, dan tentu
saja, tumbuhan. Untungnya pengemasan film ini tidak membuatku merasa kalau
semua istilah itu adalah hal yang rumit. Film ini gampang dicerna. That’s a
good point, seeing the movie is a part of sci-fi movies. Another thing, film
ini juga bagus dalam menggambarkan dilema NASA ketika mereka harus menghadapi ‘keadaan’
terkait dengan Mark Watney. Ada selipan beberapa dialog lucu yang membuat
sedikit tersenyum, but no tearjerker moments. Certainly no, jadi aku tidak
mengkategorisasikan film ini bakalan sejenis Armageddon yang bikin beberapa orang nangis seember, bahkan pada
saat mereka mendengar lagu Aerosmith. Generally,
I’ll say film ini bisa jadi dibuat untuk menunjukkan how excellent NASA is dan orang-orang di baliknya. Dan, efeknya
buatku, aku mengakui kalau film ini film ‘pintar’, tapi apakah film ini
meninggalkan kesan mendalam? Kalau buatku sendiri, film jenis ini bukan film
favoritku tapi, okelah ya, mengingat film ini ngga bikin aku jengkel dan kesal
karena ngga sesuai dengan apa yang ada di kepalaku. Last thing, setiap orang
pasti punya bagian favorit scene di suatu film dan ridiculously bagian kesukaanku adalah kapanpun body double Matt Damon muncul dalam scene. It was so obvious that I always laugh. And almost forgot about it, this movie has nice collection of songs!
And there were so much music in here than Alien back there! And the cinematography is so damn good, but it's Ridley Scott anyway, he knew how to do it ever since I wore my diaper
Synopsis: A wife of unfaithful husband had met a younger man and developed a dangerous affair
wah, kalo eneng seneng, abang juga seneng
Waktu liat posternya, aku mikir kalo
film ini pasti bakal ehem-ehem, hahaha. Soalnya bentuk posternya entah kenapa
ngingetin sama film-film zamannya Basic Instinct atau Fatal Attraction, lol.
Oiya, dugaanku juga filmnya bakal ditambah bumbu-bumbu stalker gitu soalnya
J-Lo lagi ngintip gitu. Ada dugaan juga kalo filmnya bakal mirip The Girl Next Door Elisha Cuthbert versi
thriller. Yah, pokoknya judul sama poster ini menimbulkan berbagai macam
harapan dan dugaan lah dimana aku ngarepnya film ini bakal bagus, atau paling
ngga, bisa diterima dan menyenangkan buat ditonton.
cihui, intip-intipan ni ye
Nah, film ini dimulai dengan cerita
sebuah keluarga dimana J-Lo jadi Hot Mama yang bernama Claire Peterson.
Hubungannya Claire dan suaminya, Garrett Peterson (John Corbett) sedang
buruk-buruknya karena suaminya ketahuan selingkuh dengan sekretarisnya. Claire
mau saja bercerai dengan suaminya tapi, dia masih ragu-ragu walaupun temannya,
Vicky Lansing (Kristin Chenoweth) sudah menyuruhnya untuk bercerai. Sepertinya,
salah satu keraguannya dikarenakan anaknya, Kevin Peterson (Ian Nelson) yang
sepertinya kurang setuju kalau mereka berpisah. Di tengah-tengah kegalauan
Claire, muncullah pria tampan berotot yang jauh lebih muda di hadapan Claire
bernama Noah Sanborn (Ryan Guzman). Noah ini ponakan tetangga yang datang buat
bantuin tetangganya. Dan dimulailah intip-intipan antara Claire dan Noah yang
berujung pada sebuah cinta satu malam (lol). Habis itu, Claire menyesal udah
begitu tapi Noah ngga nyesal, malahan dia makin agresif ngejar Claire. Akhir
kata, apakah Noah berhasil mendapatkan hati Claire? Ataukah Claire akan kembali
lagi ke suaminya demi anak mereka? nonton ajalah dan berikut komenku waktu
nonton film ini.
Dek, kasi abang kesempatan
Ngga, ngga banget. Mungkin ada orang
diluar sana yang demen banget sama film ini tapi, aku bukan salah satunya. It
turns out to be a mediocre film. Film lirik-lirikan antar tetangga yang
ujungnya mirip-mirip sama beberapa film thriller yang pernah aku tonton.
Basically ya, aku ngga pernah ada masalah sama film yang punya plot
mirip-mirip, tapi masalahnya film believable ngga atau terlalu lebai sampe
bikin aku rolling eyes beberapa kali. Gini ya, beberapa film J-Lo yang dulu
banget kutonton keknya nunjukkin kalo J-Lo punya kualitas akting yang mumpuni,
tapi kok film ini ngga nunjukkin itu. Aku sampe berani bilang akting J-Lo
disini biasa doing, biasa banget. Supporting character lainnya juga ngga
nunjukkin sesuatu yang eye-catching, semua biasa-biasa aja. Dari Ryan Guzman
sendiri sebagai karakter yang beradu dengan J-Lo pun ngga gitu ninggalin kesan
mendalam, selain berotot dan cukup ganteng. Buatku, film ini cukup menyiksa
untuk ditonton karena aku ngga demen nontonnya, haha. Tapi, lumayanlah biasa
liat J-Lo dapet peran yang nunjukkin seakan-akan dia tante bahagia (pfft!). Ah, ya, I almost forget to mention it, nice makeup, ada beberapa adegan yang punya efek makeup bagus disini.
Harus terbiasa dengan ekspresi ini sepanjang nonton film
Foreword, ini salah satu film yang aku
pilih out of the blue dan satu hal yang membuatku ingin menonton film ini
adalah karena film ini masuk dalam kategori film thriller dan posternya
terlihat cukup menarik dan menjanjikan untuk ditonton.
Reuni yang sepertinya terlihat menyenangkan
Enough for the introduction, film ini
dibuka dengan kesan yang sedikit misterius yang dimana Will (Logan
Marshall-Green) dan Kira (Emayatzy Corinealdi) tidak tahu mengapa tiba-tiba
mantan istri Will, Eden (Tammy Blanchard) mengundang mereka berdua dalam suatu
pertemuan atau bisa dibilang semacam reuni karena Will bertemu kembali dengan
beberapa temannya di masa lalu dan tentu saja, mantan istrinya yang juga telah
mempunyai hubungan dengan pria lain, David (Michiel Huisman). Sedikit demi
sedikit, reuni yang terkesan dadakan ini membangkitkan beberapa kenangan masa
lalu Will dan akhirnya terkuak bahwa sebelum Will dan Eden bercerai, mereka
mempunyai seorang anak laki-laki. Sayangnya, anak mereka tertimpa sebuah
kemalangan yang berujung pada kematian dan mereka pun berpisah beberapa waktu
setelahnya. Satu hal lainnya yang dirasakan oleh Will bahwa mantan istrinya dan
David terkesan sedikit aneh dan berbeda. Sepanjang acara reuni, beberapa
pikiran aneh mulai memasuki kepala Will dan dia mulai mencurigai tingkah laku
mantan istrinya, tapi apakah segala kecurigaan Will tentang mantan istrinya
benar atau semua itu hanya hal-hal yang ada di kepala Will?
Will mulai mempertanyakan dirinya sendiri
Well, ini salah satu film thriller yang
lumayan sepi yang pernah aku tonton, tidak ada adegan kejar-kejaran yang
berlebihan dan tidak ada pertumpahan darah yang ekstrem. Semuanya dikemas
dengan apik dengan menampilkan kenangan-kenangan masa lalu Will dengan cara
yang kelam dan beberapa hal aneh yang sepertinya hanya disadari oleh Will.
Sebagai penonton, aku merasa Karyn Kusama menginginkan kalau para penonton bisa
mengikuti film ini melalui sudut pandang Will. Aku seperti merasa kegetiran
yang dimiliki oleh Will saat kehilangan anaknya, perasaan Will yang sedikit
terombang-ambing melihat keadaan mantan istrinya karena dia terlihat seperti
seseorang yang masih mencintai mantan istrinya, dan juga perasaan curiga yang
dimiliki Will selama berada di reuni tersebut. Buatku, film ini sedikit
mematahkan hati karena aku harus melihat film ini melalui kacamata Will, seorang
mantan suami yang masih peduli dengan mantan istrinya dan seorang ayah yang
kehilangan anaknya. Di beberapa titik, aku merasa film ini bisa menjadi film
yang depressing bagi beberapa orang dan untukku sendiri, film ini ada kalanya
membuatku sedikit capek karena film ini memancarkan aura yang negatif dan
suram, walaupun percakapan yang ada di film ini kebanyakan berisi tentang
hal-hal comforting yang membuat kita menerima hal-hal buruk dengan penuh
kelapangan.
salah satu adegan menyentuh di film ini
At last, aku mau bilang kalau film ini menarik
untuk ditonton tapi, bisa juga jadi film sangat membosankan untuk dilihat.
Personally, buatku sendiri aku butuh untuk membangun mood yang tepat untuk
menonton film ini karena aku terbiasa menonton film thriller yang dipenuhi
dengan aksi. Film ini masuk dalam salah satu film psikologi thriller dimana
penonton lebih banyak disuguhkan dengan perasaan mencekam yang dibangun dalam
pikiran si tokoh utama. Eksplorasi film ini banyak terjadi dalam pikiran yang
tidak nyaman yang biasanya menghantui si karakter utama, yang kebetulan juga
terjadi dalam film ini. Untungnya di satu sisi, film ini tidak terlalu lelah
untuk ditonton.
Won't put the trailer because the less you know the better and the trailer literally spoil the fun
Synopsis: An urban legend led some teenagers to another hidden secret
the intro of the movie which I don't understand why it happened
Dengan segala ketumbenan, aku memutuskan
untuk menonton film yang satu ini. Film ini merupakan salah satu film horor
yang berasal dari benua tetangga, Australia. Well, aku tidak terlalu familiar
dengan film produksi dari Australia and I give this movie a chance karena film
Australia yang beberapa saat yang lalu kutonton, Lake Mungo, surpasses my
expectation. Another chance for another movie won’t hurt, then. Mungkin saja
film ini akan membuka ketertarikan dariku untuk ‘memburu’ film-film produksi
Australia lainnya.
And this is the group that will need survive throughout the movie
Film ini dibuka dengan sebuah urban
legend di Australia yang nantinya akan kita ketahui dikenal dengan nama Lemon
Tree Passage, sesuai dengan film ini. Film ini bahkan menunjukkan salah satu
penampakan di Lemon Tree Passage yang direkam dalam bentuk sebuah video yang
diklaim sebagai salah satu video yang terdapat di YouTube. Setelahnya, film ini dibuka dengan sebuah
scene dimana ada seorang laki-laki yang sepertinya dikejar-kejar oleh ‘sesuatu’
dan di tengah-tengah ketakutannya, dia hampir saja membunuh dirinya sendiri.
Namun, hal ini tidak jadi terwujud ketika dia menyadari ‘sesuatu’ yang
mengejarnya telah menghilang. Kemudian, cerita berubah haluan dengan
menceritakan beberapa remaja Amerika yang sedang backpacker ke Australia dan
mereka bertemu dengan 2 remaja lokal yang nantinya akan mengajak mereka untuk
dengan urban legend lokal, this very infamous Lemon Tree Passage, dan mereka
pun bertemu dengan urban legend yang dimaksud. Tapi, anehnya salah satu dari
remaja Amerika tersebut, Maya, menunjukkan reaksi yang aneh ketika dia melihat
urban legend tersebut. Setelahnya, keanehan sedikit demi sedikit mulai terlihat
dan hal-hal tersebut terkait dengan Maya. Jadi, siapakah si Maya ini
sebenarnya? Benarkah dia memang seorang turis dari Amerika yang datang ke
Australia untuk berlibur ataukah dia sebenarnya terhubung dengan urban legend
tersebut?
and this is....no, I won't spill the bean
So, these are some comments from me,
frankly I’ll say kalau ide dari film ini bisa dibilang tidak terlalu original.
Well, I’m sure there were several movies that talked about how urban legend
terrorizes teenagers’ lives. Tapi, sedikit twist di film ini membuat film ini
sedikit berbeda. Well, aku bilang sedikit karena personally, film ini kurang
bisa menghidupkan potensi twist yang dimiliki film ini. Karena itu, aku malahan
kurang bisa menangkap storyline yang disuguhkan film ini. Ada beberapa plothole
di film ini dan sayangnya, ada beberapa hal penting yang ditinggalkan tanpa ada
penjelasan yang lengkap. Mungkin aku yang kurang bisa menangkap plot yang
diinginkan film ini. Di awal film ini, aku masih bisa mengikuti alur tapi di
tengah-tengah film ini, aku mulai bertanya-tanya sebenarnya apa inti dari hal
yang meneror para remaja ini. Ide yang ditunjukkan dalam film ini terlalu bertumpuk
dan aku merasa kalau film ini kurang terfokus. Twist dalam sebuah film memang
bagus untuk ditunggu tapi, kalau hal itu membuat film menjadi kacau, hal
tersebut tidak begitu berguna dan sangat disayangkan. Well, membuat film memang
bukan hal yang mudah, apalagi membangun sebuah cerita yang nantinya diharapkan
dapat membuat penonton terkejut, tapi aku berharap sedikitnya film ini dapat
dimengerti dengan baik, jadi film ini tidak berakhir sebagai salah satu film
yang membuat para penonton terbingung-bingung dan kecewa dengan apa yang telah
mereka lihat. Not that I’m disappointed after watching it, I’m more confused
about how the things worked in the movie.